PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI ABBASIYAH

A. Latar Belakang Permasalahan Daulah Bani Abbasiyah
Dinasti abbasiyah menempati kedudukan penting dalam sejarah islam, antara lain karena kejayaan islam mencapai puncaknya dalam rentang waktu yang panjang. Dinasti ini mulai berkuasa tahun 132-656 H, bertepatan dengan tahun 750-1258 M penulis barat terkemuka bernama Philip K. Hitti Menyebut masa dinasti ini sebagai the most brilliant period atau masa paling cemerlang. dalam ungkapan yang berbeda, Stephen Humphrey mengatakan bahwa berdirinya Dinasti Abbasiyah merupakan “titik balik paling menentu dalam sejarah islam”.
Dinasti ini didirikan pada tahun 750M/132H oleh Abdullah Al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas , salah seorang keturunan paman Nabi Muhammad, Al-Abbas. Asal usul Dinasti Abbasiyah diawali oleh pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan Abbas, paman Nabi, yaitu Muhammad ibn Ali, kemudian Ibrahim ibn Muhammad sampai Abu Al-Abbas yang bergelar As-Saffah, terhadap pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Pemberontakan-pemberontakan tersebut dilakukan secara terus- menerus dan terorganisasi sehingga pada akhirnya terjadi revolusi menumbangkan Dinasti Bani Umayyah. Pendiri Dinasti Abbasiyah Abu Al-Abbas As-Saffah, namun Pembina sebenarnya adalah Abu Ja’far Al-Mansyur yang memerintah selama 21 tahun sejak 754 M/136 H – 775 M/ 158 H. Abu Al-Abbas hanya memerintah selama 5 tahun sejak 750 M/ 132 H – 754 M/ 136 H.
B. Asal Usul Dinasti Abbasiyah
Asal usul dinasti ini dimulai dari seorang bernama Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas(kakeknya, Al-Abbas adalah paman nabi Muhammad). Ia adalah seorang yang loyal terhadap Bani Umayyah. Karena Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-Malik memberi kepada Ali sebuah tempat bernama Humayyah, dekat Damaskus. Tempat ini mulanya tenang dan tentram, namun keadaan berubah ketika Muhammad,putra Ali, memiliki obsesi untuk meletakkan dasar-dasar kekuasaan dengan cara mempropagandakan perbuatan kekuasaan dari Bani Umayyah.
Ide untuk mengambil alih kepemimpinan tersebut tepatnya didasari oleh pandangan bahwa kepemimpinan umat tidak boleh dipegang oleh keluarga yang tidak ada hubungan kekerabatan dengan Nabi Muhammad, karena otoritas kepemimpinan umat hanya ada ditangan keluarga Nabi.
C. Sistem Politik, Pemerintahan dan Sosial
1. Politik yang dijalankan Daulah Abbasiyah
Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang Penumpah Darah. Sedangkan Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai system politik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam masalah sosial ddan pilitik diskriminas. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar ”Imam”, pemimpin masyarakat muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota raja.
Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu
a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum mawalli.
b. Kota Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, ang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain.
c. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
d. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia.

• Kekuasaan dipegang sepenuhnya oleh Khalifah, dibantu Wazir, Menteri, Gubernur, dan para Panglima beserta pegawai-pegawai dari golongan Mawali turunan Persia.
• Kota Baghdad sebagai ibukota Negara, menjadi pusat kegiatan politik, social, dan budaya, di sana ada bangsa-bangsa Arab, Turki, Persia, Rumawi, Qibhti, Hindi, Barbari, Kurdi, dll.
• Ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang sangat penting dan mulia.
• Hak asasi manusia diakui sepenuhnya.
• Para Menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahan.

Politik Daulah Abbasiyah II-III-IV:
 Kekuasaan ditangan wazir atau panglima atau sultan sedangkan kekuasaan khalifah sudah lemah bahkan kadang-kadang hanya sebagai lambang saja, sehingga berdirilah kerajaan disebelah Barat Baghdad:
a) Di Andalus berdiri Daulah Umayyah II , diangkat Abdur Rahman an-Nasir sebagai Khalifah.
b) Afrika Utara dibagi oleh Daulah Idrisiyah di Maroko, Aghlabiyah di Tunisia, Ikhsyidiyah di Mesir.
c) Di Tunisia golongan Syiah Ismailiyah mendirikan Daulah Fatimiyah,mengangkat Ubaidillah A-Mahdi menjadi Khalifah, mendirikan kota Mahdiyah.
d) Di Halab dan Musil berdiri Daulah Bani Hamdan.
e) Di Barat tumbuh kota Cordon, Toledo, Sevilla. Di Afrika kota Koiruan, Tunisia, dan Kairo. Di Syiria kota Mush dan Halab, di Timur kota Bukhara.
f) Jika keadaan politik dan militer merosot, ilmu pengetahuan tambah maju dengan pesatnya, dan hasilnya ilmu pengetahuan Daulah Islamiyah abad ke-4 lebih tinggi martabatnya dibandingkan abad sebelumnya.
2. Sistem Sosial
Pada masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umaiyah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu
a. Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan sosial
b. Kerajaan Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa ang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.)
c. Perkawina campur yang melahirkan darah campuran
d. Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru .

3. Khalifah-khalilfah pada masa abbasiyah:
• Abu al-Abbas al-Saffah
• Abu Ja’far al-Mansyur
• Al-Mahdi
• Harun al-Rasyid
• Al-Ma’mun

D. Kejayaan Daulah Abbasiyah
1. Faktor keberhasilan refolusi abbasiyah:
• Gancarnya propaganda yang dilakukan oleh al-abbas kepada setiap penduduk yang kecewa atas kepemimpinan dinasti umayyah.
• Makin banyaknya pendukung dari segala lapisan masyarakat terhadap kaum pemberontak sehingga kebencian mereka terhadap bani umayyah menjadi factor yang memudahkan mobilisasi masa dalam hal ini yang paling merasa diperlakukan tridak adil adalah kaum mawali.
• Pemerintahan dinasti bani umayyah yang dianggap dzalim ikut mendorong meningkatnya kebencian di kalangan rakyat banyak .
• Kelemahan yang dialami oleh pemerintahan dinasti bani umayyah sendiri.
2. Perkembangan Ilmu Pada Masa Abbasiyah.
1. Perkembangan Ilmu Naqli.
a. Ilmu Tafsir
Para sahabat yang menafsirkan antara lain Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ali ibn Abi Thalib, dan Ubay ibn Ka’ab dengan menafsirkan ayat dengan hadits atau atsar atau kejadian yang mereka saksikan ketika ayat itu turun, kemudian para Tabi’in mengambil tafsir dari para sahabat tersebut dengan ditambah cerita Israiliyat, setelah itu para mufasir dengan cara menyebut satu ayat kemudian menerangkan tafsirnya yang diambil dari sahabat dan Tabi’in. Tafsir yang termasyhur diantaranya Tafsir Ibnu Jarir At-Thabary.
Cara penafsirannya ada dua macam:
• Tafsir bil ma’tsur, yaitu memikirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi. Mufasir termasyhur pada masa Abbasiyah antara lain:
 Ibnu Jarir at-Thabary, tafsirnya sebanyak 30 juta.
 Ibnu Athiyah al-Andalusi (Abu Muhammad ibn Athiyah) 481-546 H.
 As-Suda yang mendasarkan penafsirannya pada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan para sahabat lainnya (wafat 127 H).
• Tafsir bir Ra’yi, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan mempergunakan akal. Mufasir yang termasyhur ialah:
 Abu Bakar Asma (Mu’tazilah)wafat 240 H.
 Abu Muslim Muhammad bin Nashral-Isfahany (Mu’tazilah)wafat 322 H. kitab tafsirnya 14 jilid.
b. Ilmu Hadits
Usaha pelestarian dan pengembangannya terjadi pada dua periode besar: masa Mutaqaddimin dan masa Mutaakhirin.
Usaha masa Mutaqaddimin dapat dibagi melalui tujuh Shop:
 Masa turunnya wahyu
 Masa Khulafau ar-Rasyidin (12-40 H). Para sahabat pembawa hadits ialah Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Anas ibn Malik, Abdullah ibn Amr ibn Isk.
 Masa sahabat kecil dan tabi’in (40 H – akhir abad 1 H).
 Masa pembukuan Hadits (awal – akhir abad II H)
 Masa pentashihan dan penyaringan Hadits (awal – akhir thud III).
Usaha masa Mutaakhirin dibagi menjadi beberapa tahap:
 Abad keempat hijriyah. Masa ini Ulama mempergunakan system istidrak dan istikhraj. Istidrak: mengumpulkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim atau tidak oleh salah satu dari keduanya tetapi memenuhi syarat yang dipergunakan oleh Al-Bukhari dan Muslim atau salah seorang dari keduanya. Sedangkan istikhraj adalah mengambil hadits dari Al-Bukhari atau Muslim umpamanya, lalu meriwayatkan dengan cara sendiri, bukan dari sanad Al-Bukhari atau Muslim.
 Abad kelima sampai abad ketujuh. Para Ulama hanya berusaha untuk memperbaiki susunan kitab, mengumpulkan hadits Al-Bukhari dan Muslim dalam satu kitab, mempermudah jalan pengambilannya, mengumpulkan hadits hukum dalam satu kitab, mengumpulkan hadits targhib dan tahrib dalam satu kitab, memberikan syarat terhadap susunan hadits yang ada, menyusun kitab atraf dan lain-lain.
c. Ilmu Kalam
Lahirnya ilmu kalam karena dua faktor:
1. Untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat seperti halnya musuh yang memakai senjata itu.
2. Semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu, kaum Mu’tazilah mengirim juru-juru dakwah kesegenap penjuru untuk menolak serangan musuh. Pelopor dan ahli ilmu Kalam terbesar ialah Washil ibn Atho, Abu Huzail Al-Allaf, Abu Hasan Al-Asyari dan Imam Ghazali.
d. Ilmu tasawuf
Ilmu btasawuf adalah salah satu ilmu yang tumbuh dan matang pada zaman Abbasiyah.inti ajarannya tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT,meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia,serta bersunyi diri beribadah. lahirnya ilmu tasawuf muncul di kalangan ulama antara lain:al-qusyairy,syahabuddari, Imam al-Ghazali
e. Ilmu bahasa
yang dimaksud dengan ilmu bahasa adalah nahwu,sharaffi ma’ani bayan bad,’arudh,qamus,dan insya’
ulama-ulama yang terkenal dalam ilmu bahasa:
1. Sibawaihi,wafat 153 H
2. Muaz al-Harro,wafat 187 H
3. Al-Kasai,wafat 190 H
4. Abu Usman al-Maziny,wafat 149 H
f. Ilmu fiqih
Pemuka ilmu fiqih adalah: Imam Malik, Imam Syafi’i Imam Hambali, dan Imam Ahmad
E. Runtuhnya Daulah Abbasiyah
Tak ada gading ang tak retak. Mungkin pepatah inilah yang sangat pas untuk dijadikan cermin atas kejayaan yang digapai bani Abbasiah. Meskipun Daulah Abbasiyah begitu bercahaya dalam mendulang kesuksesan dalam hampir segala bidang, Namun akhirnya iapun mulai kaku dan akhirnya runtuh.
Menurut beberapa literatur, ada beberapa sebab keruntuhan daulah Abbasyiah, yaitu
A. Faktor Internal
Mayoritas kholifah Abbasyiah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap negara.
Luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Abbasyiah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukuan.

Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
Permusuhan antar kelompok suku dan kelompok agama.
Merajalelanya korupsi dikalangan pejabat kerajaan.

B. Faktor Eksternal
Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancrkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hukagu Khan menanndai berakhirnya kerajaan Abbasyiah dan muncul: Kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.

Kesimpulan
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas. Berdirinya Dinasti ini tidak terlepas dari keamburadulan Dinasti sebelumny, dinasti Umaiyah.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya perpustakaan dan akademi.
Pada beberapa dekade terakhir, daulah Abbasiyah mulai mengalami kemunduran, terutama dalam bidang politiknya, dan akhirnya membawanya pada perpecahan yang menjadi akhir sejarah daulah abbasiyah.